PRAKIRAAN SERANGAN OPT PADI MT 2019/2020 DI INDONESIA

Prakiraan luas serangan OPT utama Tanaman padi pada musim tanam 2019-2020 adalah 174.747,3 ha. Prakiraan luas serangan masing-masing OPT tanaman Padi yaitu Blas (29.584,1 ha), HDB (25.886,1 ha), PBP (46.490,7 ha), Tikus (51.287,4  ha), Tungro (897,5 ha), dan WBC (20.601,5 ha). Secara rinci prakiraan serangan OPT utama padi dapat dilihat pada Tabel 13 sebagai berikut :

Prakiraan Serangan OPT Utama Pada Tanaman Padi di Indonesia MT 2019-2020

KLTS : Komulatif Luas tambah Serangan
           MT : Musim Tanam

 

Prakiraan serangan OPT utama Padi pada MT 2019-2020 di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Prakiraan Serangan Penyakit Blas dan Hawar Daun Bakteri

Jumlah serangan Blas pada tanaman padi di prakiraan seluas 29.584,1 ha. Serangan  tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Pemerintah Aceh seluas 4.973,9 ha, Jawa Barat seluas 3.911,2 ha, dan Jawa Timur seluas 3.335,5 ha. Luas serangan Blas di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 3.000 ha serta Prakiraan serangan Penyakit Hawar Daun Bakteri diprakirakan seluas 25.886,1 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Pemerintah Aceh seluas 6.471,9 ha, Jawa Tengah seluas 3.653,5 ha, dan Jawa Barat seluas 3.065,8  ha. Luas serangan Hawar Daun Bakteri di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 3.000 ha. Prakiraan serangan Hawar Daun Bakteri secara rinci dapat dilihat pada tabel    (Klik disini)

2. Prakiraan Serangan Penggerek Batang Padi dan Tikus pada Padi MT 2019-2020 di Indonesia

Jumlah serangan Penggerek Batang Padi di prakirakan seluas 46.490,7 ha. Serangan Penggerek Batang Padi tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Jawa Tengah seluas 6.069,4 ha, Jawa Barat seluas 5.142,3 ha dan Sulawesi Tengah seluas 4.532,7 ha. Luas serangan Penggerek Batang Padi di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 4.000 ha dan jumlah serangan Tikus pada padi diprakirakan seluas 51.287,4 ha. Serangan  tertinggi diprakirakan terjadi di Sumatera Utara seluas 8.786,7 ha, Pemerintah Aceh seluas 8123,7 ha, dan Jawa Tengah seluas 6130,8 ha. Luas serangan Tikus  di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 6.000 ha. Prakiraan serangan Tikus secara rinci dapat dilihat pada Tabel    (Klik Disini)

3. Prakiraan Serangan Tungro dan wereng Batang Coklat pada Padi MT 2019-2020 di Indonesia

Jumlah serangan Tungro diprakirakan seluas 897,5 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan seluas 192,2 ha, Jawa Barat seluas 149,4 ha, dan Jawa Tengah seluas 75,6, ha. Luas serangan Tungro di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 75 ha kemudian Jumlah serangan Wereng Batang Coklat diprakiraan seluas 20.601,5 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Lampung seluas 5.308,9 ha, Sumatera Selatan seluas 5.161,7 ha, dan Jawa Barat seluas 2.882,5 ha. Luas serangan Wereng Batang Coklat di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 2.500 ha. Prakiraan serangan Wereng Batang Coklat secara rinci dapat dilihat pada Tabel   (Klik disini)

STRATEGI PENGENDALIAN OPT UTAMA PADI

Penggerek Batang Padi

Pratanam

Pendekatan Preemtif

  1. Pendekatan preemtif sebagai tindak lanjut pengelolaan agroekosistem pada fase pratanam dan persemaian.
  2. Pertemuan petugas POPT, UPTD dan PPL setempat untuk merencanakan dan menentukan waktu pengolahan tanah, waktu tanam, jenis varietas yang akan ditanam, agens hayati, pupuk organik, dan pupuk yang diperlukan sebagai sarana produksi.

 

Pengolahan Tanah

  1.  Sisa tanaman, singgang, dan tunggul padi merupakan tempat bertahannya PBP, WBC, inokulum BLB, inokulum Blas, Virus kerdil, virus tungro dan musuh alami.
  2. Diperlukan pengelolaan khusus dengan cara disingkal/ dibalikan dan dirotari sehingga larva/ kelompok telur/ngengat dan inokulum penyakit akan tergilas dan mati.

Penanaman Refugi

 

  1. Keberadaan tanaman refugia dapat menjadi media/sarana/ tempat bagi musuh alami untuk tempat perbanyakan populasi atau penyediaan makanan bagi sebagian stadium dari musuh alami dimaksud (khususnya parasitoid).
  2. Tanaman refugia yang dianjurkan untuk ditanam pada periode/masa ini adalah tanaman/gulma yang menghasilkan bunga yang banyak misalnya bunga matahari, kenikir, dan wijen maupun penanaman jenis kacang-kacangan pada pematang sawah.

Persemaian

Beberapa upaya untuk menekan populasi PBP di persemaian apabila populasi ngengat dan kelompok telur ditemukan yaitu :

  1. Pengambilan/Pengumpulan Kelompok Telur

Pengendalian yang dapat dilakukan di persemaian adalah dengan pengambilan/pengumpulan kelompok telur PBP yang ditemukan dan memasukkan/menyimpan kelompok telur tersebut pada bumbung bambu yang telah diberi perangkap perekat sebelumnya agar larva yang menetas dapat terperangkap dan parasitoid telur yang keluar dapat terbang leluasa  kembali ke alam.

  1. Pelepasan Parasitoid Telur Trichogramma

Parasitoid telur Trichogramma yang telah dikembangbiakkan di laboratorium dan disiapkan dalam bentuk pias dipasang dengan menggantungkannya pada areal pesemaian untuk meningkatkan parasitisasi kelompok telur yang tidak terambil pada saat pengambilan/pengumpulan kelompok telur.

3. Pengendalian secara kimiawi

Pada daerah endemis serangan PBP, apabila berdasarkan hasil pengamatan di pesemaian telah ditemukan keberadaan kelompok telurnya, maka dianjurkan untuk diaplikasi dengan insektisida anjuran jika populasi/serangannya telah  melebihi ambang pengendalian.

  • Insektisida yang digunakan harus bekerja secara sistemik dan sistem tabur (karbofuran).
  • Dosis yang direkomendasikan untuk persemaian luasan 300-500 m2 (untuk tanaman 1 hektar) yaitu 4-6 kg.

Fase Vegetatif

Pengendalian pada fase vegetatif ini merupakan upaya terakhir untuk mengindari/menekan intensitas kerusakan pada fase generatif/beluk. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain

  1. Pengambilan/pengumpulan kelompok telur dan memasukkannya pada bumbung bambu untuk konservasi parasitoid Trichogramma secara alami.
  2. Pelepasan parasitoid Trichogramma dengan cara pemasangan pias parasitoid Trichogramma setiap minggu dimulai pada umur 2 – 4 minggu setelah tanam (12 pias/hektar) sampai umur 5-8 minggu setelah tanaman (10 pias/hektar).

Pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida anjuran (bekerja secara sistemik) jika populasi/intensitas serangannya telah melampaui ambang ekonomi. Waktu aplikasi yang paling efektif pada saat populasi larva stadia instar muda (instar 1,2,3

Wereng Batang Coklat

Pratanam

Pendekatan Preemtif

  1. Pendekatan preemtif sebagai tindak lanjut pengelolaan agroekosistem pada fase pratanam dan persemaian.
  2. Pertemuan petugas POPT, UPTD dan PPL setempat untuk merencanakan dan menentukan waktu pengolahan tanah, waktu tanam, jenis varietas yang akan ditanam, agens hayati, pupuk organik, dan pupuk yang diperlukan.

Pengolahan Tanah

  1. Sisa tanaman, singgang, dan tunggul padi merupakan tempat bertahannya PBP, WBC, inokulum BLB, inokulum Blas, Virus kerdil, virus tungro dan musuh alami.
  2. Diperlukan pengelolaan khusus dengan cara disingkal/ dibalikan dan dirotari sehingga larva/kelompok telur/ngengat dan inokulum penyakit akan tergilas dan mati.

Penanaman Refugia

  1. Keberadaan tanaman refugia dapat menjadi media/sarana/ tempat bagi musuh alami untuk tempat perbanyakan populasi atau penyediaan makanan bagi sebagian stadium dari musuh alami dimaksud (khususnya parasitoid).
  2. Tanaman refugia yang dianjurkan untuk ditanam pada periode/masa ini adalah tanaman/gulma yang menghasilkan bunga yang banyak misalnya bunga matahari, kenikir, dan wijen maupun penanaman jenis kacang-kacangan pada pematang sawah.

Penggunaan Varietas Tahan

  1. WBC merupakan salah satu jenis OPT utama padi yang memiliki perbedaan reaksi terhadap varietas yang ditanam di lapangan, sehingga varietas padi digolongkan menjadi varietas tahan dan varietas peka.
  2. Untuk menghindari/menghambat perkembangan populasi WBC yang cepat/tinggi adalah dengan pemilihan/ penanaman varietas tahan WBC.
  3. Beberapa varietas padi yang diketahui tahan terhadap serangan WBC adalah: Inpari 13, Inpari 14, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, Inpari 35.

Persemaian

  1. Serangan WBC dapat ditemukan/dijumpai sejak pesemaian hingga pertanaman menjelang panen, dan kerusakan yang serius (puso) juga dapat dijumpai sejak dari pesemaian hingga pertanaman menjelang panen.
  2. Selain itu WBC juga merupakan vektor/penular penyakit virus kerdil hampa (VKH),  virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-I) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2) yang sangat efektif, dan gejala serangan/kerusakan oleh ketiga virus tersebut juga dapat ditemukan sejak fase pesemaian hingga pertanaman menjelang panen.
  3. Pengendalian WBC pada fase pesemaian dapat dilakukan dengan cara :

Pengendalian Hayati

  1. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan mengaplikasikan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, dan Hirsutella citriformis di pesemaian.
  2. Aplikasi dilakukan jika pada pesemaian ditemukan populasi WBC (nimfa atau dewasa) pada pesemaian umur 10 hari setelah semai (HSS).

 Cara Kimiawi

  1. Pada daerah endemis serangan WBC dan VKH, VKR-1 dan VKR-2, apabila berdasarkan hasil pengamatan di pesemaian telah ditemukan keberadaan populasi WBC, maka dianjurkan untuk diaplikasi dengan  insektisida anjuran jika populasi/serangannya telah  melebihi ambang pengendalian.

Pertanaman

Fase Vegetatif

  1. Pengendalian WBC yang efektif adalah pengendalian awal dengan menggunakan APH (agens pengendalian hayati) pada saat fase migrasi (G-0/umur tanaman umur 1-4 MST) dan pengendalian paling akhir saat generasi penetap (G-1/umur 5-9 MST dengan menggunakan APH atau insektisida jika populasinya telah melampaui ambang ekonomi).

Pengendalian Hayati

  1. Pengendalian hayati WBC di pertanaman dapat dilakukan dengan menggunakan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, dan Hirsutella citriformis. Aplikasi dilakukan jika telah ditemukan populasi WBC dan masih dibawah ambang pengendalian.

Pengendalian Kimiawi

  1. Aplikasi insektisida anjuran dilakukan apabila berdasarkan pengamatan telah ditemukan populasi WBC yang melampaui ambang ekonoimi (10 ekor/rumpun umur kurang dari 40 HST atau 1 ekor/tunas umur lebih dari 40 HST).
  2. Jenis pestisida anjuran adalah racun kontak (contoh : BPMC, MIPC, dll jika populasi tinggi) dan insektistatis (buprofezin, dll jika populasi sedikit dan dominan nimfa).
  3. Evaluasi setelah aplikasi untuk mengetahui tingkat kematian, dan apabila diperlukan (populasi masih tinggi) lakukan aplikasi ulang.

Fase Generatif

  1. Pengendalian WBC pada fase ini jauh lebih sulit, mengingat pada fase tersebut merupakan populasi perusak (umur tanaman diatas 60 hst). Beberapa kesulitan dalam upaya pengendaliannya adalah : 1) tanaman sudah rimbun sehingga menyulitkan upaya penyemprotan, 2) populasi WBC jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
  2. Penggunaan insektisida pada fase generatif sama dengan pada fase vegetatif, hanya ada beberapa perlakuan yang harus dilakukan yaitu :
  3. Menggunakan dosis maksimal sesuai anjuran.
  4. Menyuai/menyibak tanaman sebelum penyemprotan.

Pengendalian Virus kerdil

  1. Kendalikan WBC sebagai vektor untuk mengurangi kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat
  2. Eradikasi selektif dengan mencabut dan membenamkan tanaman terinfeksi virus kerdil hampa dan kerdil rumput ke dalam lumpur.

Tikus

Pratanam/persemaian

Sanitasi lingkungan

Dalam upaya menciptakan lingkungan yang tidak disukai tikus, petani melakukan gerakan kebersihan di lahannya masing – masing, sedangkan pada fasilitas umum (jalan desa dan tanggul pengairan) dilakukan secara bersama-sama dengan melakukan gotong royong.

Gropyokan

  1. Gerakan pengendalian dengan metode gropyokan dilaksanakan sebelum tanam (persiapan tanam). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani.
  2. Menggunakan berbagai cara untuk menangkap/ membunuh tikus, dilakukan secara massal, merupakan metode yang paling efektif dan murah serta hasilnya dapat langsung dilihat.

Trap Barrier System (TBS)

  1. TBS atau sistem bubu perangkap merupakan teknik pengendalian tikus sawah yang terbukti efektif, dan sangat cocok diterapkan di pesemaian.
  2. Satu unit TBS terdiri dari pagar tanaman perangkap (persemaian), plastik (petani biasa menggunakan plastik bening, plastik mulsa atau plastik terpal), dan bubu perangkap sebagai alat untuk menangkap tikus.
  3. Pemasangan pagar plastik setinggi 60-70 cm ditegakkan dengan bantuan ajir setiap jarak 1 meter, ujung bawah plastik harus terendam air atau apabila tidak sulit untuk membuat saluran air, dibenamkan kedalam lumpur sehingga tidak ada celah untuk dilewati tikus.
  4. Bubu perangkap dipasang minimal 2 buah untuk setiap persemaian, dan bisa ditambah tergantung dari luasan dan populasi tikus.

Pengumpanan beracun

Pengumpanan beracun menggunakan rodentisida antikoagulan dilakukan secara terkonsentrasi dari mulai persemaian hingga stadia padi bunting.

  1. Rodentisida yang dianjurkan adalah golongan rodentisida antikoagulan yang bekerja lambat (tikus mati dalam waktu 2 – 14 hari setelah makan umpan).
  2. Setiap titik dipasang 3 butir umpan yang diletakkan di atas pematang. Jarak antar umpan 5 – 10 meter.

Stadia Tanaman Vegetatif

LTBS (Linear Trap Barrier System)

  1. LTBS atau Sistem Bubu Perangkap Linier berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 50-60 cm dengan panjang minimal 100 meter.
  2. Perangkap bubu linier bertujuan untuk mencegah terjadinya migrasi tikus dari luar, atau untuk menahan tikus dari habitatnya dalam mencari makan di pertanaman.
  3. Pada bentangan pagar plastik sepanjang 100 meter, dipasang bubu perangkap setiap 10 meter.

Pengasapan beracun/fumigasi.

  1. Tindakan fumigasi lubang aktif baik dilakukan sejak stadia persemaian hingga pemasakan, karena merupakan stadium perkembangan optimal tikus, yaitu induk dan anaknya berada di dalam lubang aktif.
  2. Pengemposan dilakukan pada lubang aktif di daerah tempat persembunyian tikus, antara lain: pematang besar, tanggul saluran air dan pada pematang sawah ketika umur tanaman stadia vegetati hingga generatif.
  3. Pengemposan sebaiknya diikuti dengan pembongkaran lubang aktif (empos gali).

Pengumpanan beracun

  1. Pengumpanan beracun menggunakan rodentisida antikoagulan dilakukan secara terkonsentrasi dari mulai persemaian hingga stadia padi bunting.
  2. Rodentisida yang dianjurkan adalah golongan rodentisida antikoagulan yang bekerja lambat (tikus mati dalam waktu 2 – 14 hari setelah makan umpan).
  3. Setiap titik dipasang 3 butir umpan yang diletakkan di atas pematang. Jarak antar umpan 5 – 10 meter.

STADIA TANAMAN GENERATIF

Pengasapan beracun/fumigasi.

  1. Pengasapan beracun atau pengemposan sangat cocok diterapkan pada kondisi dimana tikus sudah bersarang dan berkembang biak, ditandai dengan tumpukan tanah bekas galian yang menutupi jalan masuk ke lubang.

Pemanfaatan Burung Hantu

  1. Burung hantu Tyto alba merupakan salah satu predator yang potensial karena spesies ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan spesies lain yaitu ukuran tubuh yang relatif lebih besar, memiliki kemampuan membunuh dan memangsa tikus cukup baik, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berkembang biak.
  2. Kelebihan yang didapatkan dalam pemanfaatan burung hantu Tyto alba adalah (1) makanan utamanya tikus, makan 2-3 ekor tikus/malam, (2) memiliki kemampuan berburu/membunuh bukan hanya untuk makan, (3) efektif dan efisien, berburu dan mencari makan tiap malam, menghemat tenaga, (4) memiliki daya penglihatan yang tajam, sehingga mampu mendeteksi dan memburu tikus dalam jarak jauh, (5) mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan (6) cepat berkembangbiak, dalam 1 tahun bertelur hingga 2 kali, serta (7) ramah lingkungan (Ekosistem pertanian terjaga, tidak menimbulkan pencemaran lahan pertanian).

 

 

 

 

PETA PRAKIRAAN SERANGAN OPT UTAMA TANAMAN PADI MT 2019 DI INDONESIA

Berikut kami sampikan peta prakiraan serangan OPT utama padi (PBP, WBC, Tikus, Tungro, Blas dan BLB) menurut provinsi di Indonesia MT 2019 adalah sebagai berikut :

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGEREK BATANG PADI PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN WERENG BATANG COKLAT PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TIKUS PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TUNGRO PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN BLAS PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN BLB PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA