PRAKIRAAN SERANGAN OPT KEDELAI MT 2019-2020 DI INDONESIA

Prakiraan luas serangan OPT utama kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 424,4 ha. Angka prakiraan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan angka kejadian luas serangan pada MT 2019 (853 ha). Prakiraan luas serangan tertinggi adalah Penggerek Polong yaitu mencapai 133 ha, kemudian Penggulung Daun seluas 125,2 ha, Ulat Grak 123 ha, Ulat Jengkal 22,2 ha,  Tikus 11,7 ha, dan Lalat Kacang 9,3 ha. Prakiraan luas serangan untuk masing-masing OPT dan provinsi dapat dilihat pada Tabel :

Serangan opt utama kedelai MT 2019/2020 di indonesia

 

Prakiraan serangan OPT utama Kedelai pada MT 2019-2020 di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Prakiraan serangan OPT Lalat Kacang dan Penggerek Polong Pada Kedelai

Prakiraan luas serangan hama Lalat Kacang pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 9,3  ha yang tersebar di beberapa provinsi. Luas serangan tertinggi diperkirakan terjadi di Provinsi Jawa Tengah seluas 3,9 ha, DI.Yogyakarta seluas 1,8 ha dan Nusa Tenggara Barat seluas 1,7 ha dan Prakiraan luas serangan Penggerek Polong pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 133 ha. Luas serangan Penggerek Polong tertinggi diperkirakan terjadi di Provinsi Sulawesi Barat seluas 85,6 ha, Jawa Tengah seluas 28,4 ha dan Sulawesi Tengah seluas 4,1 ha.  Angka prakiraan luas serangan Lalat Kacang dan Penggerek Polong pada tanaman kedelai MT 2019-2020 untuk masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel : (Klik disini)

2. Prakiraan serangan OPT Penggulung daun dan Tikus Pada Kedelai

Prakiraan luas serangan Penggulung Daun pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai  125,2 ha. Provinsi yang diperkiraan luas serangannya paling tinggi adalah Sulawesi Barat seluas 30,1 ha, Nusa Tenggara Barat seluas 29,9 ha dan Jawa Tengah seluas 22,1 ha serta prakiraan luas serangan Tikus pada tanaman kedelai MT. 2019-2020 di Indonesia mencapai 11,7 ha. Luas serangan Tikus tertinggi diprakirakan terjadi di provinsi Jawa Timur seluas 5  ha, Nusa Tenggara Barat seluas 2,8 ha, dan Jawa Tengah seluas 1,7 ha.  Angka  prakiraan luas serangan Penggulung daun dan Tikus pada tanaman kedelai MT 2019-2020 untuk masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel : (Klik disini)

3. Prakiraan serangan OPT Ulat Grayak dan Ulat Jengkal Pada Kedelai

Prakiraan luas serangan Ulat Grayak pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai  123 ha. Luas serangan tertinggi diprakirakan akan terjadi di Provinsi Jawa Tengah seluas 31,4 ha, Nusa Tenggara Barat seluas 23,6 ha dan Banten seluas 19,6 ha dan prakiraan luas serangan Ulat Jengkal pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 22,2 ha. Prakiraan luas serangan tertinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat seluas 9,7 ha, Jawa Timur seluas 7,7 dan Jawa Tengah seluas 1,9 ha. Angka prakiraan luas serangan ulat grayak dan Ulat Jengkal pada tanaman kedelai MT 2019-2020 untuk masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel : (Klik disini)

 

STRATEGI PENGENDALIAN OPT UTAMA KEDELAI

 

PENGGEREK POLONG

Cara Pengendalian

Ambang pengendalian yang didasarkan pada populasi larva yaitu 20 ekor/10 rumpun, sedangkan ambang pengendalian yang didasarkan kerusakan polong yaitu intensitas ≥ 2,5 % polong terserang. Komponen pengendalian yang utama adalah:

  • Bertanam serentak dalam kisaran 10 hari
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya, dan waktu tanam yang tepat dengan memperhatikan pola dinamika populasi selama setahun maka dapat di tentukan waktu tanam yang tepat.
  • Sanitasi terhadap inang alternatif sebelum tanam kedelai perlu dilakukan untuk menurunkan populasi awal sebagai sumber serangan.
  • Penanaman tanaman perangkap yaitu kedelai varietas Dieng telah diketahui lebih disukai ngengat penggerek polong untuk meletakkan telurnya dan dieradikasi.
  • Pengendalian dengan menggunakan insektisida efektif dapat dilakukan apabila berdasarkan analisis ekosistem (pada fase kritis) di ketahui populasi larva atau intensitas serangan pada polong telah mencapai ambang pengendalian.

LALAT KACANG

Cara Pengendalian

Ambang pengendalian atau batas populasi yang dapat ditoleransi sejak tanaman muda sampai dengan fase berbunga dan pembentukan polong ialah 1 ekor imago/larva per 10 rumpun (1 ekor/10 rpn).

Pengendalian dapat dilakukan antara lain :

  • Melakukan tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari
  • Pergiliran tanaman, pemanfaatan mulsa jerami pada pola tanam kedelai setelah padi
  • Perlakuan benih (seed treatment) dengan pestisida (carbosulfan, fipronil), dan aplikasi insektisida (thiodicarb, dekametrin, BPMC, sipemetrin).

ULAT GRAYAK

Cara Pengendalian

  • Bertanam serentak dan melakukan pergiliran tanaman merupakan prasyarat dalam usaha pengendalian hama, termasuk pengendalian ulat grayak.
  • Pengendalian populasi ulat grayak harus dilakukan sedini mungkin yaitu sejak adanya kelompok telur atau ulat instar 1 dan 2 yang masih berkelompok, dilakukan secara mekanis dengan pengambilan dan pengumpulan kelompok telur.
  • Ulat grayak sakit/mati karena terserang virus (Sl-NPV) dapat digunakan sebagai sarana pengendali biologi, yaitu dengan cara menggerus ulat sakit/mati kemudian dicampur air dan disemprotkan ke tanaman pada sore hari.
  • Apabila tindakan pengendalian populasi terlambat maka dilakukan pengumpulan ulat (instar 4-6) pada pagi dan sore hari.
  • Apabila populasinya cukup tinggi dan gerombolan ulat telah berpencar ke rumpun sekelilingnya maka dapat dilakukan pengendalian dengan insektisida secara penyemprotan setempat (spot treatment).
  • Pengendalian dengan insektisida dibatasi sampai dengan instar-3, karena efektivitas insektisida pada ulat instar 4-6 semakin rendah.

PENGGULUNG DAUN

Cara Pengendalian

  • Melakukan dengan rotasi tanaman, sanitasi dan penyemprotan insektisida. Penyemprotan bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida regent, metindo, larvin, curacron atau prevathon dengan interval 3 hari sekali.
  • Gunakan dosis sesuai rekomendasi yang tertera pada kemasan insektisida tersebut.

 ULAT JENGKAL

Cara Pengendalian

  • Diketahui bahwa kemampuan ulat jengkal dalam memakan daun adalah setengah daripada kemampuan ulat grayak, oleh karena itu penetapan ambang pengendaliannya mengacu pada ulat grayak.
  • Pengendalian ulat jengkal harus dilakukan dengan cermat dengan memperhatikan ambang kendali agar tindakan pengendalian yang diambil tepat, hemat secara ekonomi dan aman bagi lingkungan, sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT).
  • Komponen PHT ulat jengkal pada kedelai terdiri dari pengaturan pola tanam, pemanfaatan agens hayati, musuh alami dan penggunaan insektisida yang efektif.

PETA PRAKIRAAN SERANGAN OPT KEDELAI MT 2019 DI INDONESIA

Berikut kami sampikan peta prakiraan serangan OPT Kedelai  (Penggerek Polong, Lalat Kacang, Ulat Grayak, Tikus, Penggulung Daun dan Ulat Jengkal) menurut provinsi di Indonesia MT 2019 adalah sebagai berikut:

 

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGEREK POLONG  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN LALAT KACANG  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN ULAT GRAYAK  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TIKUS  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGULUNG DAUN  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN ULAT JENGKAL  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA