PRAKIRAAN SERANGAN OPT KEDELAI MT 2019-2020 DI INDONESIA

Prakiraan luas serangan OPT utama kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 424,4 ha. Angka prakiraan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan angka kejadian luas serangan pada MT 2019 (853 ha). Prakiraan luas serangan tertinggi adalah Penggerek Polong yaitu mencapai 133 ha, kemudian Penggulung Daun seluas 125,2 ha, Ulat Grak 123 ha, Ulat Jengkal 22,2 ha,  Tikus 11,7 ha, dan Lalat Kacang 9,3 ha. Prakiraan luas serangan untuk masing-masing OPT dan provinsi dapat dilihat pada Tabel :

Serangan opt utama kedelai MT 2019/2020 di indonesia

 

Prakiraan serangan OPT utama Kedelai pada MT 2019-2020 di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Prakiraan serangan OPT Lalat Kacang dan Penggerek Polong Pada Kedelai

Prakiraan luas serangan hama Lalat Kacang pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 9,3  ha yang tersebar di beberapa provinsi. Luas serangan tertinggi diperkirakan terjadi di Provinsi Jawa Tengah seluas 3,9 ha, DI.Yogyakarta seluas 1,8 ha dan Nusa Tenggara Barat seluas 1,7 ha dan Prakiraan luas serangan Penggerek Polong pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 133 ha. Luas serangan Penggerek Polong tertinggi diperkirakan terjadi di Provinsi Sulawesi Barat seluas 85,6 ha, Jawa Tengah seluas 28,4 ha dan Sulawesi Tengah seluas 4,1 ha.  Angka prakiraan luas serangan Lalat Kacang dan Penggerek Polong pada tanaman kedelai MT 2019-2020 untuk masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel : (Klik disini)

2. Prakiraan serangan OPT Penggulung daun dan Tikus Pada Kedelai

Prakiraan luas serangan Penggulung Daun pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai  125,2 ha. Provinsi yang diperkiraan luas serangannya paling tinggi adalah Sulawesi Barat seluas 30,1 ha, Nusa Tenggara Barat seluas 29,9 ha dan Jawa Tengah seluas 22,1 ha serta prakiraan luas serangan Tikus pada tanaman kedelai MT. 2019-2020 di Indonesia mencapai 11,7 ha. Luas serangan Tikus tertinggi diprakirakan terjadi di provinsi Jawa Timur seluas 5  ha, Nusa Tenggara Barat seluas 2,8 ha, dan Jawa Tengah seluas 1,7 ha.  Angka  prakiraan luas serangan Penggulung daun dan Tikus pada tanaman kedelai MT 2019-2020 untuk masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel : (Klik disini)

3. Prakiraan serangan OPT Ulat Grayak dan Ulat Jengkal Pada Kedelai

Prakiraan luas serangan Ulat Grayak pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai  123 ha. Luas serangan tertinggi diprakirakan akan terjadi di Provinsi Jawa Tengah seluas 31,4 ha, Nusa Tenggara Barat seluas 23,6 ha dan Banten seluas 19,6 ha dan prakiraan luas serangan Ulat Jengkal pada tanaman kedelai MT 2019-2020 di Indonesia mencapai 22,2 ha. Prakiraan luas serangan tertinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat seluas 9,7 ha, Jawa Timur seluas 7,7 dan Jawa Tengah seluas 1,9 ha. Angka prakiraan luas serangan ulat grayak dan Ulat Jengkal pada tanaman kedelai MT 2019-2020 untuk masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel : (Klik disini)

 

STRATEGI PENGENDALIAN OPT UTAMA KEDELAI

 

PENGGEREK POLONG

Cara Pengendalian

Ambang pengendalian yang didasarkan pada populasi larva yaitu 20 ekor/10 rumpun, sedangkan ambang pengendalian yang didasarkan kerusakan polong yaitu intensitas ≥ 2,5 % polong terserang. Komponen pengendalian yang utama adalah:

  • Bertanam serentak dalam kisaran 10 hari
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya, dan waktu tanam yang tepat dengan memperhatikan pola dinamika populasi selama setahun maka dapat di tentukan waktu tanam yang tepat.
  • Sanitasi terhadap inang alternatif sebelum tanam kedelai perlu dilakukan untuk menurunkan populasi awal sebagai sumber serangan.
  • Penanaman tanaman perangkap yaitu kedelai varietas Dieng telah diketahui lebih disukai ngengat penggerek polong untuk meletakkan telurnya dan dieradikasi.
  • Pengendalian dengan menggunakan insektisida efektif dapat dilakukan apabila berdasarkan analisis ekosistem (pada fase kritis) di ketahui populasi larva atau intensitas serangan pada polong telah mencapai ambang pengendalian.

LALAT KACANG

Cara Pengendalian

Ambang pengendalian atau batas populasi yang dapat ditoleransi sejak tanaman muda sampai dengan fase berbunga dan pembentukan polong ialah 1 ekor imago/larva per 10 rumpun (1 ekor/10 rpn).

Pengendalian dapat dilakukan antara lain :

  • Melakukan tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari
  • Pergiliran tanaman, pemanfaatan mulsa jerami pada pola tanam kedelai setelah padi
  • Perlakuan benih (seed treatment) dengan pestisida (carbosulfan, fipronil), dan aplikasi insektisida (thiodicarb, dekametrin, BPMC, sipemetrin).

ULAT GRAYAK

Cara Pengendalian

  • Bertanam serentak dan melakukan pergiliran tanaman merupakan prasyarat dalam usaha pengendalian hama, termasuk pengendalian ulat grayak.
  • Pengendalian populasi ulat grayak harus dilakukan sedini mungkin yaitu sejak adanya kelompok telur atau ulat instar 1 dan 2 yang masih berkelompok, dilakukan secara mekanis dengan pengambilan dan pengumpulan kelompok telur.
  • Ulat grayak sakit/mati karena terserang virus (Sl-NPV) dapat digunakan sebagai sarana pengendali biologi, yaitu dengan cara menggerus ulat sakit/mati kemudian dicampur air dan disemprotkan ke tanaman pada sore hari.
  • Apabila tindakan pengendalian populasi terlambat maka dilakukan pengumpulan ulat (instar 4-6) pada pagi dan sore hari.
  • Apabila populasinya cukup tinggi dan gerombolan ulat telah berpencar ke rumpun sekelilingnya maka dapat dilakukan pengendalian dengan insektisida secara penyemprotan setempat (spot treatment).
  • Pengendalian dengan insektisida dibatasi sampai dengan instar-3, karena efektivitas insektisida pada ulat instar 4-6 semakin rendah.

PENGGULUNG DAUN

Cara Pengendalian

  • Melakukan dengan rotasi tanaman, sanitasi dan penyemprotan insektisida. Penyemprotan bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida regent, metindo, larvin, curacron atau prevathon dengan interval 3 hari sekali.
  • Gunakan dosis sesuai rekomendasi yang tertera pada kemasan insektisida tersebut.

 ULAT JENGKAL

Cara Pengendalian

  • Diketahui bahwa kemampuan ulat jengkal dalam memakan daun adalah setengah daripada kemampuan ulat grayak, oleh karena itu penetapan ambang pengendaliannya mengacu pada ulat grayak.
  • Pengendalian ulat jengkal harus dilakukan dengan cermat dengan memperhatikan ambang kendali agar tindakan pengendalian yang diambil tepat, hemat secara ekonomi dan aman bagi lingkungan, sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT).
  • Komponen PHT ulat jengkal pada kedelai terdiri dari pengaturan pola tanam, pemanfaatan agens hayati, musuh alami dan penggunaan insektisida yang efektif.

PRAKIRAAN SERANGAN OPT JAGUNG MT 2019-2020 DI INDONESIA

Prakiraan luas serangan OPT utama tanaman jagung pada musim tanam 2019-2020 adalah 23.640,3 ha. Prakiraan luas serangan masing-masing OPT tanaman Jagung yaitu Bulai (974,2 ha), Lalat Bibit (1.095,7 ha), Penggerek Batang Jagung (2.673,6 ha), Penggerek Tongkol Jagung (1.950,8 ha), Tikus (2.812,5 ha), dan Ulat Grayak (14.133,6 ha). Secara rinci Prakiraan serangan OPT utama Jagung dapat dilihat  pada Tabel 17 sebagai berikut :

                                       Keterangan   : KLTS = Kumulatif Luas Tambah Serangan, MT = MusimTanam

                                       Sumber data : Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan

Prakiraan serangan OPT utama Jagung pada MT 2019-2020 di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Prakiraan Serangan Penyakit Bulai dan Lalat Bibit pada Jagung

Jumlah serangan Bulai pada tanaman Jagung diprakiraan seluas 974,2 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di provinsi Jawa Timur seluas 404,9 ha, Jawa Tengah seluas 211,4 ha dan NusaTenggara Timur seluas 53,4 ha sedangkan jumlah serangan Lalat Bibit Jagung diprakirakan seluas 1.095,7 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Gorontalo seluas 358,8 ha, Nusa Tenggara Barat seluas 247,9 dan Sulawesi Tengah seluas 77,5 ha. Prakiraan serangan secara rinci dapat dilihat pada Tabel  (Klik disini)

2. Prakiraan Serangan Penggerek Batang Jagung dan Penggerek Tongkol pada Jagung

Jumlah serangan Penggerek Batang di prakiraan seluas 2.673,6 ha. Serangan penyakit Penggerek Batang tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Pemerintah Aceh seluas 507,6 ha, Sulawesi Barat seluas 460,6 ha, dan Gorontalo seluas  230,2 ha dan jumlah serangan Penggerek Tongkol pada jagung diprakirakan seluas 1.950,8 ha. Serangan  tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Sulawesi Barat seluas 461,2 ha, pemerintah Aceh seluas 274,4 ha, dan Sulawesi Tengah seluas 238,0 ha, secara rinci dapat dilihat pada Tabel (Klik disini)

3. Prakiraan Serangan Tikus dan Ulat Grayak Pada Jagung

Jumlah serangan Tikus diprakirakan seluas 2.812,5 ha.  Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Jawa Timur seluas 644,6 ha, Jawa Tengah seluas  505,4 ha, Sulawesi selatan seluas 314,2 ha, dan Sulawesi Barat seluas 243,5 ha dan jumlah serangan Ulat Grayak diprakiraan seluas 14.133,6 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Pemerintah Aceh seluas 5.071,9 ha, Sumatera Utara seluas 3.448,3 ha dan Lampung seluas 1.647,7 ha. Prakiraan serangan secara rinci dapat dilihat pada Tabel (Klik disini)

 

STRATEGI PENGENDALIAN OPT UTAMA JAGUNG

LALAT BIBIT

Lalat bibit menyerang  tanaman umur 0-14 HST (vegetatif awal). Apabila pada umur 4-7 HST tanman yang tumbuh < 90%, perlu dilakukan penyulaman dengan biji. Serangan lalat bibit dominan terjadi pada bulan Desember/Januari (pada musim hujan).

Musuh Alami

  1. Penggunaan parasitoid : Cardiachiles sp, Argyrophylax sp, parasitoid telur Trichograma spp, parasitoid larva Ophius dan Tetrasticus sp.
  2. Predator : Lycosa sp, Oxyopes sp, Argiope sp, Collitrichita sp, Paederus sp, Micraspis sp, Cocinella sp, Selenopsis sp

 Kultur Teknis/Pola Tanam

  1. Mengatur waktu tanam
  2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi dan jagung
  3. Tanaman serempak
  4. Penggunan mulsa
  5. Penggunaan varietas tahan

Perawatan benih (seed dressing)

  1. Menggunakan  thiodicarb dengan dosis 7,5 -15 gram b.a/kg benih atau karbofuran dengan dosis 6 gram b.a/kg benih. Setelah berumur 5-7 hari tanaman diaplikasi dengan karbofuran dengan dosis 0,2 kg b.a/ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha.

Insektisida

  1. Pengendalian dengan insektisida berbahan aktif alfa sipermetrin, BPMC, dimehipo, fenitrotion, fenpropatrin, imidakloprid, karbosulfan,  klorpirifos, dan tiametoksam.

BULAI

Serangan Bulai  terjadi pada tanaman  umur 1-70 HST. Tanaman yang terinfeksi dan tumbuh selama musim kemarau merupakan sumber inokulum. Bila biji ditanam, jamurnya ikut berkembang dan menginfeksi bibit , selanjutnya dapat menjadi sumber inokulum (penyakit).

 Cara Pengendalian

  1. Kultur teknis/pola tanam
  • Menanam varietas yang tahan Bulai (varietas Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi, Lamuru, dan Gumarang).
  • Melakukan periode waktu bebas tanam jagung minimal dua minggu sampai satu bulan.
  • Tidak menanam benih jagung yang berasal dari tanaman sakit.
  • Menanam secara serempak pada awal sampai akhir musim kemarau
  • Mengatur waktu tanam.
  1. Pengendalian fisik dan mekanik
  • Sanitasi/eradikasi tanaman yang terinfeksi
  • Mencabut dan mengeradikasi tanaman yang terserang
  1. Perlakuan benih
  • Perlakuan benih menggunakan fungisida sistemik dan bahan aktif metalaksil, dimetomorf, propineb, propikonazol, tebukunazol, simoksamil, tiram, mankozeb, mefenoksam dan metil metalaksil.

TIKUS

Tikus menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Bagian yang disukai tikus umumnya pada ujung tongkol sampai bagian pertengahan.

Cara Pengendalian

  1. Pengendalian hayati  
  • Tikus dapat dikendalikan dengan memanfaatkan predator berupa burung elang dan burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negatif terhadap manusia.
  1.  Sanitasi
  • Pembersihan dan penyempitan pematang atau tanggul dapat dilakukan untuk membatasi tikus membuat sarang. Untuk itu, pematang atau tanggul dibuat dengan lebar kurang dari 40 cm.
  1. Mekanik
  • Pemagaran pertanaman dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, atau gropyokan merupakan tindakan pengendalian mekanik yang dapat dilaksanakan untuk mengurangi populasi tikus.
  • Penggunaan bambu berukuran 2 m yang pada salah satu bubunya dilubangi, kemudian diletakkan di pinggir pematang saat terbentuknya tongkol sampai panen, dapat menipu tikus yang diduga sebagai lobang alamiah.
  1. Kimiawi
  • Rodentisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan Penggerek Tongkol adalah umpan beracun. RMB yang banyak dipasarkan adalah Klerat, Storm, dan Ramortal.
  • Emposan dengan menggunakan bahan fumigasi efektif menurunkan populasi Penggerek Tongkol. Jenis bahan fumigasi yang biasa dipakai adalah sulfur dioksida.

PENGGEREK TONGKOL

  1. Musuh Alami
  • Beberapa parasit H. armigera dikenal di Indonesia adalah Trichogramma yang merupakan parasit telur dan Eriborus arqentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Dalam keadaan kelembaban cukup, larva juga diserang oleh cendawan Metharrhizium.
  1. Kultur Teknis/Pola Tanam
  • Pengolahan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dengan demikian dapat mengurangi populasi pada pertanaman berikutnya.

ULAT GRAYAK

Ulat grayak merupakan hama yang polifag. Ada beberapa spesies dari genus Mythimna yang dapat makan pada jagung antara lain M. separata, M. loreyi, dan dari genus Spodoptera  antara lain S. mauritia, S. exempta, S. litura dan S. Frugiperda. Ledakan populasi ulat grayak dapat tiba-tiba muncul dan juga cepat hilang. Sering kali ledakan populasi hanya terjadi selama satu generasi, diikuti oleh penurunan populasi pada generasi selanjutnya.

Cara Pengendalian

  1. Musuh Alami
  • Banyak musuh alami yang mengatur populasi ulat grayak di lapangan. Peribae orbata (Tachinidae) merupakan parasit larva ulat grayak. Di Sarawak, Kalimantan, tingkat parasitasi dapat mencapai 40%.
  • Parasit lain yang telah diidentifikasi adalah Palexorista lucaqus (Wlk), Pseudogonia rufifrons, Apanteles sp., Chelonus sp., dan Cuphocera varia. Telemonus dan Tetrastichus schoenobii  ditemukan sebagai parasit telur. Di Sulawesi Selatan banyak ditemukan fungi Nomuraea rileyi (Far.) Sanson dan virus nuklear polihydrosis menyerang larva.
  1. Kultur Teknis/Pola Tanam
  • Oleh karena ulat grayak ini membentuk pupa dalam tanah, maka pengolahan tanah, pembakaran sisa tanaman atau gulma dapat menurunkan populasi pada pertanaman berikutnya.
  1. Insektisida
  • Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan menganjurkan aplikasi insektisida, jika sudah ditemukan 2 ekor ulat/m2.
  • Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirif os, triazofos, dikhlorvos, sianofenfos dan karbaril.
  • Salah satu formulasi virus sebagai pestisida biologi yang pernah dicoba adalah Authoqrapha californicais NPV (A, Cal NPV) yang diisolasi dari larva yang sakit pada tanaman alfalfa.

 

PRAKIRAAN SERANGAN OPT PADI MT 2019/2020 DI INDONESIA

Prakiraan luas serangan OPT utama Tanaman padi pada musim tanam 2019-2020 adalah 174.747,3 ha. Prakiraan luas serangan masing-masing OPT tanaman Padi yaitu Blas (29.584,1 ha), HDB (25.886,1 ha), PBP (46.490,7 ha), Tikus (51.287,4  ha), Tungro (897,5 ha), dan WBC (20.601,5 ha). Secara rinci prakiraan serangan OPT utama padi dapat dilihat pada Tabel 13 sebagai berikut :

Prakiraan Serangan OPT Utama Pada Tanaman Padi di Indonesia MT 2019-2020

KLTS : Komulatif Luas tambah Serangan
           MT : Musim Tanam

 

Prakiraan serangan OPT utama Padi pada MT 2019-2020 di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Prakiraan Serangan Penyakit Blas dan Hawar Daun Bakteri

Jumlah serangan Blas pada tanaman padi di prakiraan seluas 29.584,1 ha. Serangan  tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Pemerintah Aceh seluas 4.973,9 ha, Jawa Barat seluas 3.911,2 ha, dan Jawa Timur seluas 3.335,5 ha. Luas serangan Blas di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 3.000 ha serta Prakiraan serangan Penyakit Hawar Daun Bakteri diprakirakan seluas 25.886,1 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Pemerintah Aceh seluas 6.471,9 ha, Jawa Tengah seluas 3.653,5 ha, dan Jawa Barat seluas 3.065,8  ha. Luas serangan Hawar Daun Bakteri di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 3.000 ha. Prakiraan serangan Hawar Daun Bakteri secara rinci dapat dilihat pada tabel    (Klik disini)

2. Prakiraan Serangan Penggerek Batang Padi dan Tikus pada Padi MT 2019-2020 di Indonesia

Jumlah serangan Penggerek Batang Padi di prakirakan seluas 46.490,7 ha. Serangan Penggerek Batang Padi tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Jawa Tengah seluas 6.069,4 ha, Jawa Barat seluas 5.142,3 ha dan Sulawesi Tengah seluas 4.532,7 ha. Luas serangan Penggerek Batang Padi di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 4.000 ha dan jumlah serangan Tikus pada padi diprakirakan seluas 51.287,4 ha. Serangan  tertinggi diprakirakan terjadi di Sumatera Utara seluas 8.786,7 ha, Pemerintah Aceh seluas 8123,7 ha, dan Jawa Tengah seluas 6130,8 ha. Luas serangan Tikus  di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 6.000 ha. Prakiraan serangan Tikus secara rinci dapat dilihat pada Tabel    (Klik Disini)

3. Prakiraan Serangan Tungro dan wereng Batang Coklat pada Padi MT 2019-2020 di Indonesia

Jumlah serangan Tungro diprakirakan seluas 897,5 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan seluas 192,2 ha, Jawa Barat seluas 149,4 ha, dan Jawa Tengah seluas 75,6, ha. Luas serangan Tungro di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 75 ha kemudian Jumlah serangan Wereng Batang Coklat diprakiraan seluas 20.601,5 ha. Serangan tertinggi diprakirakan terjadi di Provinsi Lampung seluas 5.308,9 ha, Sumatera Selatan seluas 5.161,7 ha, dan Jawa Barat seluas 2.882,5 ha. Luas serangan Wereng Batang Coklat di provinsi lainnya diprakirakan dibawah 2.500 ha. Prakiraan serangan Wereng Batang Coklat secara rinci dapat dilihat pada Tabel   (Klik disini)

STRATEGI PENGENDALIAN OPT UTAMA PADI

Penggerek Batang Padi

Pratanam

Pendekatan Preemtif

  1. Pendekatan preemtif sebagai tindak lanjut pengelolaan agroekosistem pada fase pratanam dan persemaian.
  2. Pertemuan petugas POPT, UPTD dan PPL setempat untuk merencanakan dan menentukan waktu pengolahan tanah, waktu tanam, jenis varietas yang akan ditanam, agens hayati, pupuk organik, dan pupuk yang diperlukan sebagai sarana produksi.

 

Pengolahan Tanah

  1.  Sisa tanaman, singgang, dan tunggul padi merupakan tempat bertahannya PBP, WBC, inokulum BLB, inokulum Blas, Virus kerdil, virus tungro dan musuh alami.
  2. Diperlukan pengelolaan khusus dengan cara disingkal/ dibalikan dan dirotari sehingga larva/ kelompok telur/ngengat dan inokulum penyakit akan tergilas dan mati.

Penanaman Refugi

 

  1. Keberadaan tanaman refugia dapat menjadi media/sarana/ tempat bagi musuh alami untuk tempat perbanyakan populasi atau penyediaan makanan bagi sebagian stadium dari musuh alami dimaksud (khususnya parasitoid).
  2. Tanaman refugia yang dianjurkan untuk ditanam pada periode/masa ini adalah tanaman/gulma yang menghasilkan bunga yang banyak misalnya bunga matahari, kenikir, dan wijen maupun penanaman jenis kacang-kacangan pada pematang sawah.

Persemaian

Beberapa upaya untuk menekan populasi PBP di persemaian apabila populasi ngengat dan kelompok telur ditemukan yaitu :

  1. Pengambilan/Pengumpulan Kelompok Telur

Pengendalian yang dapat dilakukan di persemaian adalah dengan pengambilan/pengumpulan kelompok telur PBP yang ditemukan dan memasukkan/menyimpan kelompok telur tersebut pada bumbung bambu yang telah diberi perangkap perekat sebelumnya agar larva yang menetas dapat terperangkap dan parasitoid telur yang keluar dapat terbang leluasa  kembali ke alam.

  1. Pelepasan Parasitoid Telur Trichogramma

Parasitoid telur Trichogramma yang telah dikembangbiakkan di laboratorium dan disiapkan dalam bentuk pias dipasang dengan menggantungkannya pada areal pesemaian untuk meningkatkan parasitisasi kelompok telur yang tidak terambil pada saat pengambilan/pengumpulan kelompok telur.

3. Pengendalian secara kimiawi

Pada daerah endemis serangan PBP, apabila berdasarkan hasil pengamatan di pesemaian telah ditemukan keberadaan kelompok telurnya, maka dianjurkan untuk diaplikasi dengan insektisida anjuran jika populasi/serangannya telah  melebihi ambang pengendalian.

  • Insektisida yang digunakan harus bekerja secara sistemik dan sistem tabur (karbofuran).
  • Dosis yang direkomendasikan untuk persemaian luasan 300-500 m2 (untuk tanaman 1 hektar) yaitu 4-6 kg.

Fase Vegetatif

Pengendalian pada fase vegetatif ini merupakan upaya terakhir untuk mengindari/menekan intensitas kerusakan pada fase generatif/beluk. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain

  1. Pengambilan/pengumpulan kelompok telur dan memasukkannya pada bumbung bambu untuk konservasi parasitoid Trichogramma secara alami.
  2. Pelepasan parasitoid Trichogramma dengan cara pemasangan pias parasitoid Trichogramma setiap minggu dimulai pada umur 2 – 4 minggu setelah tanam (12 pias/hektar) sampai umur 5-8 minggu setelah tanaman (10 pias/hektar).

Pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida anjuran (bekerja secara sistemik) jika populasi/intensitas serangannya telah melampaui ambang ekonomi. Waktu aplikasi yang paling efektif pada saat populasi larva stadia instar muda (instar 1,2,3

Wereng Batang Coklat

Pratanam

Pendekatan Preemtif

  1. Pendekatan preemtif sebagai tindak lanjut pengelolaan agroekosistem pada fase pratanam dan persemaian.
  2. Pertemuan petugas POPT, UPTD dan PPL setempat untuk merencanakan dan menentukan waktu pengolahan tanah, waktu tanam, jenis varietas yang akan ditanam, agens hayati, pupuk organik, dan pupuk yang diperlukan.

Pengolahan Tanah

  1. Sisa tanaman, singgang, dan tunggul padi merupakan tempat bertahannya PBP, WBC, inokulum BLB, inokulum Blas, Virus kerdil, virus tungro dan musuh alami.
  2. Diperlukan pengelolaan khusus dengan cara disingkal/ dibalikan dan dirotari sehingga larva/kelompok telur/ngengat dan inokulum penyakit akan tergilas dan mati.

Penanaman Refugia

  1. Keberadaan tanaman refugia dapat menjadi media/sarana/ tempat bagi musuh alami untuk tempat perbanyakan populasi atau penyediaan makanan bagi sebagian stadium dari musuh alami dimaksud (khususnya parasitoid).
  2. Tanaman refugia yang dianjurkan untuk ditanam pada periode/masa ini adalah tanaman/gulma yang menghasilkan bunga yang banyak misalnya bunga matahari, kenikir, dan wijen maupun penanaman jenis kacang-kacangan pada pematang sawah.

Penggunaan Varietas Tahan

  1. WBC merupakan salah satu jenis OPT utama padi yang memiliki perbedaan reaksi terhadap varietas yang ditanam di lapangan, sehingga varietas padi digolongkan menjadi varietas tahan dan varietas peka.
  2. Untuk menghindari/menghambat perkembangan populasi WBC yang cepat/tinggi adalah dengan pemilihan/ penanaman varietas tahan WBC.
  3. Beberapa varietas padi yang diketahui tahan terhadap serangan WBC adalah: Inpari 13, Inpari 14, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, Inpari 35.

Persemaian

  1. Serangan WBC dapat ditemukan/dijumpai sejak pesemaian hingga pertanaman menjelang panen, dan kerusakan yang serius (puso) juga dapat dijumpai sejak dari pesemaian hingga pertanaman menjelang panen.
  2. Selain itu WBC juga merupakan vektor/penular penyakit virus kerdil hampa (VKH),  virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-I) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2) yang sangat efektif, dan gejala serangan/kerusakan oleh ketiga virus tersebut juga dapat ditemukan sejak fase pesemaian hingga pertanaman menjelang panen.
  3. Pengendalian WBC pada fase pesemaian dapat dilakukan dengan cara :

Pengendalian Hayati

  1. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan mengaplikasikan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, dan Hirsutella citriformis di pesemaian.
  2. Aplikasi dilakukan jika pada pesemaian ditemukan populasi WBC (nimfa atau dewasa) pada pesemaian umur 10 hari setelah semai (HSS).

 Cara Kimiawi

  1. Pada daerah endemis serangan WBC dan VKH, VKR-1 dan VKR-2, apabila berdasarkan hasil pengamatan di pesemaian telah ditemukan keberadaan populasi WBC, maka dianjurkan untuk diaplikasi dengan  insektisida anjuran jika populasi/serangannya telah  melebihi ambang pengendalian.

Pertanaman

Fase Vegetatif

  1. Pengendalian WBC yang efektif adalah pengendalian awal dengan menggunakan APH (agens pengendalian hayati) pada saat fase migrasi (G-0/umur tanaman umur 1-4 MST) dan pengendalian paling akhir saat generasi penetap (G-1/umur 5-9 MST dengan menggunakan APH atau insektisida jika populasinya telah melampaui ambang ekonomi).

Pengendalian Hayati

  1. Pengendalian hayati WBC di pertanaman dapat dilakukan dengan menggunakan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, dan Hirsutella citriformis. Aplikasi dilakukan jika telah ditemukan populasi WBC dan masih dibawah ambang pengendalian.

Pengendalian Kimiawi

  1. Aplikasi insektisida anjuran dilakukan apabila berdasarkan pengamatan telah ditemukan populasi WBC yang melampaui ambang ekonoimi (10 ekor/rumpun umur kurang dari 40 HST atau 1 ekor/tunas umur lebih dari 40 HST).
  2. Jenis pestisida anjuran adalah racun kontak (contoh : BPMC, MIPC, dll jika populasi tinggi) dan insektistatis (buprofezin, dll jika populasi sedikit dan dominan nimfa).
  3. Evaluasi setelah aplikasi untuk mengetahui tingkat kematian, dan apabila diperlukan (populasi masih tinggi) lakukan aplikasi ulang.

Fase Generatif

  1. Pengendalian WBC pada fase ini jauh lebih sulit, mengingat pada fase tersebut merupakan populasi perusak (umur tanaman diatas 60 hst). Beberapa kesulitan dalam upaya pengendaliannya adalah : 1) tanaman sudah rimbun sehingga menyulitkan upaya penyemprotan, 2) populasi WBC jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
  2. Penggunaan insektisida pada fase generatif sama dengan pada fase vegetatif, hanya ada beberapa perlakuan yang harus dilakukan yaitu :
  3. Menggunakan dosis maksimal sesuai anjuran.
  4. Menyuai/menyibak tanaman sebelum penyemprotan.

Pengendalian Virus kerdil

  1. Kendalikan WBC sebagai vektor untuk mengurangi kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat
  2. Eradikasi selektif dengan mencabut dan membenamkan tanaman terinfeksi virus kerdil hampa dan kerdil rumput ke dalam lumpur.

Tikus

Pratanam/persemaian

Sanitasi lingkungan

Dalam upaya menciptakan lingkungan yang tidak disukai tikus, petani melakukan gerakan kebersihan di lahannya masing – masing, sedangkan pada fasilitas umum (jalan desa dan tanggul pengairan) dilakukan secara bersama-sama dengan melakukan gotong royong.

Gropyokan

  1. Gerakan pengendalian dengan metode gropyokan dilaksanakan sebelum tanam (persiapan tanam). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani.
  2. Menggunakan berbagai cara untuk menangkap/ membunuh tikus, dilakukan secara massal, merupakan metode yang paling efektif dan murah serta hasilnya dapat langsung dilihat.

Trap Barrier System (TBS)

  1. TBS atau sistem bubu perangkap merupakan teknik pengendalian tikus sawah yang terbukti efektif, dan sangat cocok diterapkan di pesemaian.
  2. Satu unit TBS terdiri dari pagar tanaman perangkap (persemaian), plastik (petani biasa menggunakan plastik bening, plastik mulsa atau plastik terpal), dan bubu perangkap sebagai alat untuk menangkap tikus.
  3. Pemasangan pagar plastik setinggi 60-70 cm ditegakkan dengan bantuan ajir setiap jarak 1 meter, ujung bawah plastik harus terendam air atau apabila tidak sulit untuk membuat saluran air, dibenamkan kedalam lumpur sehingga tidak ada celah untuk dilewati tikus.
  4. Bubu perangkap dipasang minimal 2 buah untuk setiap persemaian, dan bisa ditambah tergantung dari luasan dan populasi tikus.

Pengumpanan beracun

Pengumpanan beracun menggunakan rodentisida antikoagulan dilakukan secara terkonsentrasi dari mulai persemaian hingga stadia padi bunting.

  1. Rodentisida yang dianjurkan adalah golongan rodentisida antikoagulan yang bekerja lambat (tikus mati dalam waktu 2 – 14 hari setelah makan umpan).
  2. Setiap titik dipasang 3 butir umpan yang diletakkan di atas pematang. Jarak antar umpan 5 – 10 meter.

Stadia Tanaman Vegetatif

LTBS (Linear Trap Barrier System)

  1. LTBS atau Sistem Bubu Perangkap Linier berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 50-60 cm dengan panjang minimal 100 meter.
  2. Perangkap bubu linier bertujuan untuk mencegah terjadinya migrasi tikus dari luar, atau untuk menahan tikus dari habitatnya dalam mencari makan di pertanaman.
  3. Pada bentangan pagar plastik sepanjang 100 meter, dipasang bubu perangkap setiap 10 meter.

Pengasapan beracun/fumigasi.

  1. Tindakan fumigasi lubang aktif baik dilakukan sejak stadia persemaian hingga pemasakan, karena merupakan stadium perkembangan optimal tikus, yaitu induk dan anaknya berada di dalam lubang aktif.
  2. Pengemposan dilakukan pada lubang aktif di daerah tempat persembunyian tikus, antara lain: pematang besar, tanggul saluran air dan pada pematang sawah ketika umur tanaman stadia vegetati hingga generatif.
  3. Pengemposan sebaiknya diikuti dengan pembongkaran lubang aktif (empos gali).

Pengumpanan beracun

  1. Pengumpanan beracun menggunakan rodentisida antikoagulan dilakukan secara terkonsentrasi dari mulai persemaian hingga stadia padi bunting.
  2. Rodentisida yang dianjurkan adalah golongan rodentisida antikoagulan yang bekerja lambat (tikus mati dalam waktu 2 – 14 hari setelah makan umpan).
  3. Setiap titik dipasang 3 butir umpan yang diletakkan di atas pematang. Jarak antar umpan 5 – 10 meter.

STADIA TANAMAN GENERATIF

Pengasapan beracun/fumigasi.

  1. Pengasapan beracun atau pengemposan sangat cocok diterapkan pada kondisi dimana tikus sudah bersarang dan berkembang biak, ditandai dengan tumpukan tanah bekas galian yang menutupi jalan masuk ke lubang.

Pemanfaatan Burung Hantu

  1. Burung hantu Tyto alba merupakan salah satu predator yang potensial karena spesies ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan spesies lain yaitu ukuran tubuh yang relatif lebih besar, memiliki kemampuan membunuh dan memangsa tikus cukup baik, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berkembang biak.
  2. Kelebihan yang didapatkan dalam pemanfaatan burung hantu Tyto alba adalah (1) makanan utamanya tikus, makan 2-3 ekor tikus/malam, (2) memiliki kemampuan berburu/membunuh bukan hanya untuk makan, (3) efektif dan efisien, berburu dan mencari makan tiap malam, menghemat tenaga, (4) memiliki daya penglihatan yang tajam, sehingga mampu mendeteksi dan memburu tikus dalam jarak jauh, (5) mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan (6) cepat berkembangbiak, dalam 1 tahun bertelur hingga 2 kali, serta (7) ramah lingkungan (Ekosistem pertanian terjaga, tidak menimbulkan pencemaran lahan pertanian).

 

 

 

 

PETA PRAKIRAAN SERANGAN OPT KEDELAI MT 2019 DI INDONESIA

Berikut kami sampikan peta prakiraan serangan OPT Kedelai  (Penggerek Polong, Lalat Kacang, Ulat Grayak, Tikus, Penggulung Daun dan Ulat Jengkal) menurut provinsi di Indonesia MT 2019 adalah sebagai berikut:

 

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGEREK POLONG  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN LALAT KACANG  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN ULAT GRAYAK  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TIKUS  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGULUNG DAUN  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN ULAT JENGKAL  PADA  KEDELAI  MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PETA PRAKIRAAN SERANGAN OPT JAGUNG MT 2019 DI INDONESIA

Berikut kami sampikan peta prakiraan serangan OPT Jagung  (Lalat Bibit, Penggerek Batang, Bulai, Tikus, Penggerek Tongkol dan Ulat Grayak) menurut provinsi di Indonesia MT 2019 adalah sebagai berikut:

 

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN LALAT BIBIT  PADA  JAGUNG MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGEREK BATANG  PADA  JAGUNG MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN BULAI PADA  JAGUNG MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TIKUS PADA  JAGUNG MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGEREK TONGKOL  PADA  JAGUNG MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN ULAT GRAYAK  PADA  JAGUNG MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PETA PRAKIRAAN SERANGAN OPT UTAMA TANAMAN PADI MT 2019 DI INDONESIA

Berikut kami sampikan peta prakiraan serangan OPT utama padi (PBP, WBC, Tikus, Tungro, Blas dan BLB) menurut provinsi di Indonesia MT 2019 adalah sebagai berikut :

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN PENGGEREK BATANG PADI PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN WERENG BATANG COKLAT PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TIKUS PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN TUNGRO PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN BLAS PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN LUAS SERANGAN BLB PADA TANAMAN PADI MT.2019
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

PRAKIRAAN SERANGAN OPT KEDELAI MT 2019 MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

Prakiraan OPT bertujuan untuk memberikan informasi dini tentang keberadaan populasi, intensitas dan luas serangan, serta penyebaran OPT yang akan datang, sehingga dapat disusun saran tindak pengelolaan OPT sesuai prinsip dan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Berikut kami sampaikan prakiraan serangan OPT  Kedelai  menurut Provinsi di Indonesia :

PRAKIRAAN SERANGAN OPT JAGUNG MT 2019 MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

Prakiraan OPT bertujuan untuk memberikan informasi dini tentang keberadaan populasi, intensitas dan luas serangan, serta penyebaran OPT yang akan datang, sehingga dapat disusun saran tindak pengelolaan OPT sesuai prinsip dan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Berikut kami sampaikan prakiraan serangan OPT  Jagung  menurut Provinsi di Indonesia :

PRAKIRAAN SERANGAN OPT PADI MT 2019 MENURUT PROVINSI DI INDONESIA

Prakiraan OPT bertujuan untuk memberikan informasi dini tentang keberadaan populasi, intensitas dan luas serangan, serta penyebaran OPT yang akan datang, sehingga dapat disusun saran tindak pengelolaan OPT sesuai prinsip dan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Berikut kami sampaikan prakiraan serangan OPT  Utama Padi menurut Provinsi di Indonesia :

PRAKIRAAN SERANGAN OPT PADI, JAGUNG DAN KEDELAI MT 2019 DI INDONESIA

Prakiraan Organisme Penggagu Tumbuhan (OPT) merupakan bagian dari sub-sistem perlindungan tanaman. Prakiraan OPT adalah kegiatan mendeteksi atau memprediksi perkembangan populasi atau serangan OPT yang akan terjadi pada masa mendatang serta kemungkinan penyebarannya dalam ruang dan waktu tertentu.

Prakiraan OPT bertujuan untuk memberikan informasi dini tentang keberadaan populasi, intensitas dan luas serangan, serta penyebaran OPT yang akan datang, sehingga dapat disusun saean tindak pengelolaan OPT sesuai prinsip dan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Analisis prakiraan serangan OPT berdasarkan angka luas serangan yang terjadi pada periode sebelumnya dengan menggunakan model yang di kembangkan Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT). Berdasarkan informasi perkembangan OPT tersebut diharapkan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi dapat dengan segera melakukan upaya untuk mencegah/ mengendalikan peningkatan populasi dan serangan OPT, sehingga kerugian yang lebih besar dapat dihindari, selain itu juga diharapkan dengan pola dan metodologi yang sama dapat disusun prakiraan serangan OPT lebih rinci di tingkat lapangan (spesifik lokasi).

Berikut kami sampaikan prakiraan OPT Padi, Jagung dan Kedelai secara Nasional MT 2019 di Indonesia :

 

PRAKIRAAN SERANGAN OPT PADI, JAGUNG DAN KEDELAI MT 2019 DI INDONESIA